Categories
Press Release

Joni Yuwono Local Branding: Jamu is the New Espresso

#IBF2020

#IBF2020

Rebound - Reboot - Reborn

Joni Yuwono Local Branding: Jamu is the New Espresso

Jamu dan Mpon-Mpon menjadi primadona sejak pandemi COVID-19 merebak. Penyebabnya yaitu karena dipercaya dapat menjaga daya tahan tubuh dari penularan virus Corona. Hal ini kemudian menjadi peluang yang coba ditangkap oleh Joni Yuwono selaku Direktur Acaraki Nusantara Persada.

Acaraki sendiri merupakan kafe yang secara khusus mengembangkan menu berbasis Jamu. Joni menceritakan awal mula mengembangkan Acaraki yaitu ketika sedang berdiskusi Jamu hampir semua orang menjawab sudah pernah mencoba namun mereka tidak memiliki “ingatan yang baik”. Image yang ditinggalkan yaitu kuno dan pahit.

Nasib jamu tidak seberuntung kopi meskipun sudah dikonsumsi bertahun-tahun lalu, popularitas jamu masih kalah dengan kopi. Jika dibilang jamu adalah kuno, kopi juga kuno.  Jika dibilang rasanya pahit, kopi juga pahit namun orang senang minum kopi bahkan bisa menjadikan ngopi sebagai bagian dari kegiatan sehari-hari.

Hal ini yang kemudian disadari oleh Joni bahwa tantangan mengembangkan Acaraki yaitu mengubah persepsi jamu dari “minuman pahit dan kuno” menjadi “minuman segar dan sehari-hari”. “Misi Acaraki yaitu ingin menjadikan jamu sebagai bagian dari lifestyle,” ujar Joni Yuwono dalam gelaran Indonesia Brand Forum 2020 pada Selasa, 30 Juni 2020.

Untuk bisa menjadikan jamu sebagai bagian dari kehidupan sehari-hari, ia percaya harus ada sesuatu yang meningkatkan minat masyarakat terhadap jamu. Maka dari itu, melalui Acaraki berbagai inovasi baik dari segi rasa dan variasi menu terus dilakukan dan termasuk dalam hal penyajian. Jika jamu disajikan dengan cara yang menarik dan modern, perlahan strategi ini akan menghapus image jamu sebagai minuman yang kuno. Joni percaya kedepannya, Jamu is the new Espresso yang memiliki basis fanatik seperti fans kopi.

Saat ini, dalam waktu kurang dari satu tahun, Acaraki telah berkembang memiliki dua cabang: di Kota Tua dan Kemang. Nama Acaraki sendiri diambil dari gelar atau sebutan pembuat jamu tradisional. Diceritakan oleh Joni, Acaraki mengusung konsep dapur terbuka dimana konsumen bisa melihat proses pengolahan minuman jamu mulai dari menimbang takaran, grinder dan menyeduh jamu dengan cara yang sama dengan menyeduh espresso. Dengan menunjukkan proses pengolahan jamu yang modern di harapkan akan meningkatkan minat konsumen terhadap jamu.

Di gelar pada 30 Juni sd 2 Juli 2020, IBF 2020 adalah pelaksanaan IBF yang keempat. Berbeda dengan acara sebelumnya, IBF kali ini digelar secara webinar. Dibuka oleh Arief Yahya, mantan Menteri Pariwisata sebagai keynote speaker, acara ini menghadirkan 36 pembicara yang datang dari beragam industri, mayoritas adalah pemimpin perusahaan-perusahaan besar di Indonesia, ajang ini sangat penting dan sayang buat dilewatkan. “Karena IBF 2020 akan menjadi panduan bagi brand dalam melakukan REBOUND-REBOOT-REBORN untuk sukses di kenormalan baru. Ini merupakan branding conference paling komprehensif di masa pandemi yang membahas 40+ branding topics dan industry comeback di era new normal,” kata Yuswohady, Chairman IBF 2020.

Share this post

Share on facebook
Share on google
Share on twitter
Share on linkedin
Share on pinterest
Share on print
Share on email
Categories
Press Release

BRI: Terus Pacu Transformasi Digital

#IBF2020

#IBF2020

Rebound - Reboot - Reborn

BRI: Terus Pacu Transformasi Digital

Perbankan tampaknya terus berkejaran dengan waktu di era new normal ini. Di sisi kredit, mereka harus melakukan mitigasi risiko, terutama dengan para debitor. Di sisi lain (lending) mereka juga harus selektif untuk industri yang prospektif untuk dibiayai. Semuanya dilakukan agar bisa survive.

Sementara itu, di sisi pemasaran, mereka juga mesti kreatif-inovatif. Salah satunya adalah dengan melakukan transformasi digital untuk mengefisienkan proses kerja sekaligus mengadopsi perubahan perilaku nasabah di era low touch economy, atau ekonomi minim sentuhan fisik.

Salah satu bank yang makin serius melakukan transformasi digital adalah BRI. Menurut Handayani, Direktur Consumer BRI, mereka sudah melakukan transformasi digital sejak 2018 melalui apa yang disebut sebagai BRIVolution. Ini adalah payung dalam melakukan transformasi baik dari dari sisi culture maupun digital. Khusus untuk transformasi digital, ada tiga pendekatan yang dilakukan BRI yaitu digital customer on boarding, digital product and services dan digitalization process.

Dengan transformasi itu, BRI kini memiliki layanan digital yang kian massif dan andal. Bahkan mendapatkan momentumnya saat pandemi Covid-19 melanda. Salah satu wujudnya adalah digitalization process. Selain transaksi melalui mobile dan internet banking, nasabah yang ingin membuka rekening BRI sudah bisa melakukannya secara online melalui aplikasi BRImo yang memungkinkan semua proses Know Your Customer (KYC) dilakukan online tanpa harus ke kantor cabang. “Dan ternyata aplikasi pembukaan rekening secara online ini mendapat sambutan yang positif dari masyarakat terutama selama pandemi Covid-19 ini,” katanya pada acara Indonesia Brand Forum 2020, Selasa 30 Juni 2020 di hadapan lebih dari 300 peserta.

Selanjutnya, dalam acara yang berlangsung secara webinar ini, Handayani juga mengungkapkan bahwa tren transaksi digital di BRI selama pandemi Covid-19 tumbuh pesat, yang menunjukkan besarnya animo masyarakat mengadopsi kehidupan digital. Awalnya, dia menegaskan, pihaknya tidak memperkirakan transaksi digital akan menjadi sebuah kebutuhan yang luar biasa. Namun setelah adanya pademi ini justru terlihat bahwa langkah transformasi yang sudah dilakukan ternyata mendapat respon yang sangat baik.

Alhasil, melihat animo serta kebutuhan tersebut, tak salah jika BRI akan semakin mendorong transformasi digital ini agar membuat BRI menjadi yang terdepan di masa-masa mendatang.

Share this post

Share on facebook
Share on google
Share on twitter
Share on linkedin
Share on pinterest
Share on print
Share on email
Categories
Press Release

3R: Strategi Kebangkitan di Tengah Pandemi

#IBF2020

#IBF2020

Rebound - Reboot - Reborn

3R: Strategi Kebangkitan di Tengah Pandemi

Kalangan bisnis saat ini menghadapi tantangan memasuki masa new normal dimana perilaku konsumen, kompetisi, dan lanskap bisnis berubah demikian drastis. Perubahan ini menyebabkan bisnis-bisnis yang “high-touch” berguguran

Karena itu, urgensinya bagi kalangan bisnis adalah bagaimana mereka merespons kenormalan baru agar bisa survive, recover, dan akhirnya menemukan momentum growth.

Karena itu dalam pembukaan Indonesia Brand Forum (IBF), Selasa (30/6), Yuswohady sebagai Program Director IBFsekaligus Managing Partner Inventure mengusulkan tiga strategi yang diyakininya akan mampu membawa bisa mengentaskan pelaku bisnis dari kemelut krisis COVID-19. Ia menyebut tiga strategi itu 3R yaitu: Rebound, Reboot, dan Reborn.

Rebound adalah strategi bottoming-up yaitu bangkit kembali setelah dihajar krisis COVID-19,” kata Yuswohady. Seperti diketahui selama 3 bulan terakhir ini dunia usaha babak-belur karena omset macet karena adanya social distancing dan keharusan stay at home.

Dalam strategi Rebound ini setiap brand harus merombak dan merekonstruksi kembali value proposition yang ditawarkan ke konsumen. Karena di era low-touch economy banyak value proposition yang sudah usang dan tak relevan lagi sehingga harus dirombak dan diredefinisi.

Strategi kedua menurut Yuswohady adalah ReBoot yaitu strategi creative distruction dalam rangka menemukan kembali model bisnis yang fit dengan kondisi pandemi.

“idenya sama dengan Ctrl-Alt-Del dalam operasi  komputer,” kata Yuswohady, yaitu  melakukan “Ctrl-Alt-Del” terhadap model bisnis perusahaan sehingga relevan dengan kondisi di kenormalan baru.

Sementara strategi ketiga adalah ReBorn yaitu strategi untuk membangun kembali identitas baru di kenormalan baru. Ketika value proposition dan business model berubah, maka brand DNA akan berubah dan otomatis brand identity juga harus berubah.

Karena itu menurut Yuswohady, penting bagi setiap pemain bisnis di kenormalan baru untuk membangun kembali brand dengan memperkenalkan dan memperkuat identitas baru. 

IBF tahun ini agak berbeda karena dilaksanakan dalam format web conference yang menghadirkan lebih dari 40 pembicara dari kalangan branding expert dan industry leaders dalam 33 sesi selama 3 hari.

Share this post

Share on facebook
Share on google
Share on twitter
Share on linkedin
Share on pinterest
Share on print
Share on email