INDONESIA BRAND FORUM

"Building Local Brands for the Great Indonesia"

Tolak Angin, Membawa Jamu Naik Kelas
on March 1, 2013 in Communities, Local Challenger

Bertarung di generasi modern

Minum jamu? Bukan untuk anak muda.

Mbok jamu dengan botol minuman yang dipanggul, berkeliling menawarkan minuman sehat ala Indonesia asli, kini sulit ditemui disudut-sudut kota besar di Indonesia.  Padahal Khasiat jamu sudah dikenal ke seluruh pelosok negeri. Memasuki era modern, jamu mulai kehilangan pamornya. Kesan tradisional dan kuno menempel erat pada jamu. Ini menyebabkan, konsumen jamu sendiri kebanyakan dari masyarakat yang sudah berumur, namun tidak bagi kaum muda yang kini serba praktis atau lebih modern tentunya.

Salah satu brand jamu ternama di Indonesia, Tolak Angin, pernah mengalami hal tersebut. Awal tahun 1980-an, brand jamu yang berada di bawah bendera Sido Muncul ini masih dipandang sebagai produk jamu kesehatan yang tradisional, kuno dan ada kesan kampungan di dalamnya. Namun Sido Muncul tidak lantas diam dengan anggapan tersebut. Jamu yang pertama kali diproduksi skala pabrik di tahun 1951 itu mengalami transformasi sedemikian rupa. Jamu yang awalnya berbentuk tablet bulat hitam, berubah menjadi serbuk. Kemudian dikembangkan lagi  dalam bentuk cair seperti yang biasa kita konsumsi sekarang ini.

Tidak hanya dalam hasil jadi yang mengalami transformasi. Modernisasi pabrik juga dilakukan Sido Muncul  dan diimplementasikan untuk semua produk Tolak Angin, berdasarkan cara pembuatan obat tradisional yang baik (CPOTB) maupun dengan cara pe,mbuatan obat yang benar (CPOB). Maka dari itu, Tolak Angin menjadi salah satu produk dengan terjamin quality control-nya. Inovasi-inovasi di atas menjadi tonggak kesuksesan brand Tolak Angin saat ini.

Orang Pintar Minum Tolak Angin

Tolak Angin juga mengangkat citra merek Tolak Angin agar lebih bisa diterima di masyarakat. Alih-alih berpegang dalam label jamu, Tolak Angin justru ingin mengubahnya. Tidak mudah mengedukasi masyarakat agar bisa mengosumsi Tolak Angin. Langkah nyatanya, Tolak Angin mengkomunikasikan dan mereposisi bukan sebagai jamu lagi, namun sebagai produk herbal berkualitas.

Penjual jamu gendong dari Solo. – Wikipedia

Usaha menaikkan level  jamu dilakukan juga melalui perubahan strategi komunikasi pemasaran dengan target market menengah ke atas. Melalui endorser dari kalangan selebritis yang mewakili target market tersebut Tolak Angin berhasil membawa nama jamu naik kelas. Beberapa artis dan tokoh yang pernah menjadi endorser Tolak Angin adalah Lula Kamal, Agnes Monica, Rhenald Kasali, Sophia Latjuba, Soebroto Laras, Anggito Abimanyu, hingga menteri BUMN, Dahlan Iskan juga tak luput dari strategi pemasaran Tolak Angin. Di sisi lain, Tolak Angin juga mengedukasi masyarakat untuk beralih ke obat hebal melalui tampilan TVC yang menonjolkan hasil uji ilmiah Tolak Angin untuk dapat masuk ke logika akademisi. Selain itu, pendekatan lain juga dilakukan melalui seminar dengan Ikatan Dokter Indonesia (IDI).

Ditambah dengan kegiatan CSR yang sudah dimulai sejak tahun 1991 sebagai bentuk kampanye positif tentang penggunaan obat herbal di kalangan masyarakat, akhirnya Tolak Angin berhasil mambawa nama jamu berada di level yang lebih berkelas. Ini dibuktikan melalui berbagai penghargaan Top Brand Award yang didapat oleh Tolak Angin dengan indeks yang relatif tinggi. Dan sekarang, baik tua atau muda, dari golongan manapun, mulai beralih ke Tolak Angin.(dari berbagai sumber)

Oleh: Nanda Bagus

Share This Post