INDONESIA BRAND FORUM

"Building Local Brands for the Great Indonesia"

Gen Y, Menyusun Ulang Pola Pikir Tentang Karir
on February 20, 2013 in Communities

Desember 2012 lalu Harvard business review menulis perubahan yang terjadi dalam dunia bisnis, termasuk juga perubahan pola pikir tentang karir, menyoal ketidakpastian.

In an unpredictable world, traditional career planning is a waste of time. It’s close to impossible to pinpoint exactly where you’ll be in five years and work backwards.

Menarik membahas pola pikir Gen-Y yang saat ini sedang menjadi bahan studi skripsi saya, bukan karna generasi ini identik dengan apa yang saya rasakan tapi rasanya lebih realistis jika dihubungkan dengan berbagai teori ekonomi.

Misalnya saja untuk konsep present value vs future value. Gen-Y mengubah pola pikir tentang percepatan karir tentu akan sangat kontradiktif dengan mereka Gen X atau Baby Boomers yang memang cenderung lebih loyal dan lebih tertarik pada insentif jangka panjang. Gen-Y jauh mementingkan gaji yang besar tanpa peduli iming iming insentif jangka panjang, dalam teori ekonomi (termasuk juga praktek lapangannya) present value jauh lebih berharga dibanding masa yang akan datang. Banyak kesempatan yang bisa dilakukan dengan capital yang ada sekarang, alih alih menyerahkan pilihan kedepan ditangan perusahaan.

Akselerasi Lewat Dunia Digital Ala Gen-Y

Sebagian besar perubahan pola karir  sangat ketara pada industri digital, turn over karyawan semakin tinggi, masa karir semakin pendek - toh lebih baik pindah kantor, peningkatan salary jelas lebih cepat kan!. Apalagi para pekerja semakin sadar bahwa dalam upah yang diterima stiap bulannya terselip hak pimpinan untuk memarahi, jadi kalau masih ada ruang pelampiasan emosi kenapa ngakpilih yang dampak finansialnya lebih oke.

Bisa jadi karna dekat dengan gadget dan akses informasi serta sebagian besar fasih dengan dunia digital maka Gen-Y alhasil mereka yang bisa menemukan banyak opportunity termasuk memilih entrepreneur. Dengan hal hal seperti itu Gen-Y memaksa perubahan, khususnya dalam hal akselerasi. Ini lah beberapa pola pikir tentang karir yang mereka ubah:

Periode karir yang semakin pendek.

Akan semakin jarang bahkan terancam punah orang-orang yang masa kerja atau membangun karir di suatu perusahaan hingga lebih dari 20 tahun. Sebagai contoh, saya sendiri sering mendapat 2 – 3 tawaran kerja  setiap bulannya dengan rata rata sal memenuhi hidup sejahtera, yang semuanya datang via Linkedin ataupun email. Karenanya, masa karir akan semakin pendek dengan semakin banyaknya tawaran kompetitif diluar perusahaan. Karena itu juga di kalangan gen Y terkenal dengan istilah karir 4 tahun.

Batasan Antara Bekerja dan Bermain yang semakin mengabur.

Tersedianya gadget dan akses internet membuat bekerja dan bermain jaraknya hanya satu gesture,just one click away itulah yang terjadi antara pekerjaan dengan hiburan, tugas dan games. Deal, opportunity ataupun menjawab email kerjaan bisa terjadi di atas jam 20.00. Hal seperti itu sudah biasa, termasuk pada saat akhir pekan. Hal seperti ini mengakibatkan kaburnya batasanantara bekerja dengan urusan pribadi. Dengan alasan ini juga Gen-Y memperjuangkan hak lebih.

Bermunculan profesi baru, kelangkaan talent padahal belum ada standar pay yang baku.

Industri yang baru seperti social media, atau kita sebut saja online media membutuhkan talent dengan skill baru yang belum banyak dimiliki. Sampai disini masalah belum selesai,  gelar dan sertifikasi negara belum ada lembaganya, birokrasi setaraf universitas pun belum mampu mengakomodir standarisasi ilmu pengetahuan jenis baru ini. Misalnya saja SEO, Web Analysis, ataupun Social Media Expert beberapa posisi tersebut membuat HRD pusing karena menimbulkan gap dalam penggajian.

Pengaturan kerja yang lebih fleksibel.

Kemajuan teknologi membuat pekerja dapat terhubung dari mana saja, sehingga semakin meningkatkan tren bekerja dari luar kantor serta jam kerja yang lebih fleksibel. Hal ini kemudian mengubah rancangan banyak kantor di dunia, dengan lebih mengutamakan produktivitas dan bukan kehadiran (banyak fasilitas di kantor yang tidak lagi diperlukan). Sementara kantor yang pimpinannya tetap mendewakan setor muka akan ditinggal mereka Gen-Y yang memiliki kelas.

Penulis: Arham Haryadi
Sumber Tulisan:  http://simplyecho.net/2650/gen-y-pola-pikir-karir.html

Oleh: Arham Haryadi

Share This Post